Mencintai orang dengan gangguan kejiwaan sering dibilang menyeramkan. Mungkin ia bisa jadi berubah dari kalem ke obsesif ke menutup diri dalam waktu yang begitu cepat. Mungkin ia akan bereaksi keterlaluan dengan kata-kata yang kamu ucapkan. Di Indonesia, gangguan kejiwaan selain skizofrenia tidak dianggap valid- masih belum mendapatkan penanganan serius. padahal, 1 dari 10 orang di seluruh dunia dalam periode hidupnya akan pernah mengalami gangguan kejiwaan, termasuk depresi, kecemasan, ADHD, bipolar disorder, atau PTSD dan lain-lain. Jadi, kemungkinannya adalah kamu pernah berhubungan dengan orang yang menderita gangguan ini.

Inilah fakta-fakta yang perlu kamu tahu tentang menjalin hubungan dengan mereka yang memiliki gangguan kejiwaan:

Memiliki gangguan kejiwaan tidak berarti mereka tidak stabil

Kamu mungkin sudah pernah berteman atau bahkan pacaran dengan orang-orang yang memiliki masalah mental. Seseorang yang memiliki gangguan, baik ia menjalani terapi dengan psikiater atau tidak, dan paham dengan apa yang mereka alami, akan menemukan mekanisme untuk bisa menanganinya sehingga bisa hidup senormal mungkin. Dia mungkin memiliki beberapa sifat unik, tetapi sifat-sifat ini tak akan beda dengan sifat orang lain yang tak mengalami gangguan, hanya khas, dan dengan kepribadiannya sendiri. Jika seseorang yang kamu kencani curhat bahwa ia sedang melawan gangguan kejiwaan, dengarkan dan jangan berasumsi atau menghakimi.

Mereka butuh komunikasi terbuka

Seperti apa pun hubungan yang kamu miliki, salah satu kunci agar hubungan dengan mereka yang memiliki masalah kejiwaan sukses adalah dengan menjaga agar komunikasi selalu terbuka. Pasanganmu akan butuh persetujuan kamu untuk membicarakan tentang masalah kesehatannya tanpa penghakiman atau asumsi. Salah satu hal yang bisa kamu lakukan adalah dengan menjadwalkan sebuah check-in rutin, mungkin seminggu sekali, dimana kalian sama-sama mendiskusikan perasaan, masalah, dan segala hal yang bisa mempengaruhi hubunganmu.

Bukan tugasmu untuk “memperbaikinya”

Melihat seseorang yang kamu sayangi menderita apa pun, baik penyakit fisik maupun jiwa, adalah salah satu hal yang paling menyakitkan dan membuatmu ingin membantu. Kamu bisa jadi bingung, tegang, sedih, tak tahu harus bagaimana. Yang harus kamu ingat, justru sebagai pasangan yang baik, kamu tidak bertanggung jawab untuk “memperbaikinya” seperti barang rusak. Tawarkanlah dukungan ketika ia melalui masa-masa sulit, temukan solusi agar ia bisa hidup bahagia dan sehat. Dengarkan, hiburlah, dan bantulah ia menangani masalah-masalahnya. Ia butuh menemukan perawatan yang terbaik untuk dirinya. Kamu bisa berperan penting, tapi sadarilah, kamu tidak bisa jadi obat yang menyembuhkan segalanya. Sama seperti kamu tak bisa menggantikan dokter dalam menangani penyakit fisik.

Aturan hubungan standar tetap berlaku

Satu hal yang harus kamu ingat, walaupun pasanganmu memiliki gangguan kejiwaan, ia tetap manusia, standar hubungan dengan peraturan-peraturan biasa yang kamu terapkan tidak boleh berbeda. Kamu harus menganggap ia setara denganmu dan bukan bayi yang tak bisa diajak bersikap dewasa. Kamu tak boleh menoleransi tindakan abusifnya hanya karena ia pernah mengalami trauma. Kamu harus menghapus stigma-stigma yang menganggap bahwa orang-orang dengan depresi atau bipolar tidak bisa berfungsi normal. Karena sebenarnya, mereka berfungsi sama seperti kamu dan orang-orang lain yang neurotipikal.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

Ini 5 Hal Yang Ternyata Dianggap Seksi Oleh Para Cowok

Apakah seksi itu? Wajah yang cantik, tubuh yang