Mayoritas ibu menyusui, terutama di Indonesia, lebih memilih untuk memberi air susu ibu (ASI) kepada buah hatinya, daripada memberikan susu formula. Namun, produksi ASI bisa menjadi tantangan tersendiri bagi ibu hamil, karena beberapa ibu hamil mengalami krisis laktasi.

Apa itu krisis laktasi?

Krisis laktasi adalah periode di mana bayi tidak senang atau tidak suka dengan ASI dari ibu. Ketika bayi menolak ASI ibu, semakin lama mereka akan semakin lapar. Berat badan pun bisa berkurang dan mereka menjadi lebih rewel dari biasanya. Akibatnya bayi menjadi mudah dan sering menangis.

Saat mengalami krisis laktasi, ibu menyusui bisa menjadi sangat frustrasi. Bahkan mungkin beberapa ibu menyusui merasa dirinya gagal menjadi seorang ibu ketika bayinya tidak mau mengonsumsi ASI.

Apa penyebab krisis laktasi? 

Untuk diketahui, setiap bayi membutuhkan lebih banyak susu dari yang kita perkirakan. Sementara itu, kemampuan mereka untuk mengisap ASI pun akan berkembang seiring pertumbuhan. Jadi, mereka hanya membutuhkan waktu singkat untuk sesi “makan” atau minum ASI. 

Ada kemungkinan sang ibu menerima sinyal perubahan pada bayi namun hanya menyimpan ASI yang terbatas. Akibatnya, ASI ibu tidak cukup untuk mencukupi keinginan dan kebutuhan sang buah hati.

Kapan krisis laktasi biasa terjadi? 

Umumnya, krisis laktasi terjadi sekitar 5 kali selama tahun pertama kehidupan seorang anak. Jadi, sebelum menginjak umur satu tahun, bayi bisa mengalami lima kali krisis laktasi. 

Lima kali krisis laktasi bisa terjadi pada periode berikut ini:

  1. Saat bayi berusia antara 1 sampai 3 minggu
  2. Saat bayi berusia 6 minggu
  3. Saat bayi berusia 3 bulan
  4. Saat bayi berusia 6 bulan
  5. Saat bayi berusia 9 bulan

Bagaimana cara mengatasi krisis laktasi? 

Ketika mengalami krisis laktasi, kebanyakan ibu menyusui akan menempuh cara instan dengan membeli susu formula untuk memenuhi kebutuhan sang buah hati. Namun, hal ini sebenarnya harus dihindari. 

Mengapa demikian? Karena ketika ibu membeli susu formula, maka produksi ASI bisa semakin menurun. Jadi, alih-alih membeli susu formula untuk menggantikan ASI, sebaiknya ibu mencoba cara berikut ini untuk mengatasi krisis laktasi : 

  1. Cobalah untuk beristirahat dari pekerjaan rumah tangga, terutama pekerjaan yang berat dan menghabiskan banyak waktu. Jika ibu sudah beristirahat dari pekerjaan rumah tangga, ibu bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengan si kecil. Cukup istirahat dan tidak stres adalah kunci untuk lepas dari krisis laktasi. 
  1. Jangan memaksa bayi untuk meminum ASI ibu. Beri mereka asi hanya ketika mereka menginginkannya. Tapi, ibu harus mengetahui tanda-tanda ketika bayi mulai lapar, sehingga ibu bisa segera memberi ASI sebelum bayi menangis karena kelaparan. 
  1. Coba posisi menyusui yang baru dan biarkan si kecil menemukan posisi yang paling nyaman untuknya. Ketika menemukan posisi paling nyaman, ada kemungkinan si kecil akan semangat lagi untuk minum ASI ibu.

Sebagai catatan, ibu harus memahami bahwa krisis laktasi hanya terjadi sementara. Jangan sampai ibu jadi stres karena merasa terpuruk atau merasa gagal. Tetaplah percaya diri, karena semua ibu bisa memberi ASI yang baik untuk anak mereka. 

Baca Juga :

Menyusui Bikin Susah Kurus? Makanan Diet Sehat Ini Juga Bisa Tingkatkan ASI Lho

Tips Turunkan Berat Badan Setelah Menyusui

Dear Ibu Muda, Jangan Malu atau Merasa Bersalah Karena 8 Hal Ini

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

Anak Lebih Suka pada Pasangan Kamu? Ini yang Harus Kamu Lakukan

Peristiwa di mana anak lebih dekat atau lebih