Apa yang biasanya Anda lakukan saat emosi melanda? Apakah Anda langsung menuju dapur saat tengah kesal dan sedih? Anda tidak sendirian, karena banyak sekali yang mencari kenyamanan melalui makanan saat suasana hati memburuk.

Emotional Eating terjadi karena aktivitas makan yang terjadi akibat respon terhadap emosi. Kadang-kadang, hampir semua orang melakukannya. Masuk akal bahwa makan akan membuat Anda lebih baik, akena tubuh membutuhkan asupan makanan untuk bertahan hidup. Makan juga akan mengaktifkan sistem penghargaan otak, sehingga tubuh akan merasa lebih baik.

Saat terlalu sering makan karena emosi, hal ini dapat menyebabkan masalah. Makan hanya mengatasi masalah emosi Anda sesaat saja dan tidak mengatasi masalah intinya. Rasa stress, kesepian, sedih, lelah, dan bosan tidak akan bilang hanya dengan makan.

Makanan adalah pusat dari begitu banyak hal yang kita lakukan. Membuat makanan untuk seseorang juga dapat menjadi cara untuk menunjukkan perhatian saat seseorang sedang bersedih. Jadi, sebenarnya wajar jika kita memiliki hubungan emosional dengan makanan.

Akan ada saat-saat dimana makanan menjadi salah satu cara untuk mengatasi emosi. Anda harus sadar dalam membuat keputusan tentang kapan, apa, dan bagaimana Anda makan. 

Penyebab Seseorang Makan Karena Emosi

Sebenarnya banyak hal yang menjadi pemicu keinginan untuk makan. Alasan eksternal yang menjadi penyebab umum untuk makan karena emosi diantaranya:

  1. Stress akibat kerja
  2. Kekhawatiran akan masalah finansial
  3. Adanya masalah kesehatan dan hubungan
  4. Adanya diet ketat atau seseorang dengan riwayat diet ketat, sehingga menyebabkan seseorang makan karena emosi.

Selain penyebab eksternal, ada juga penyebab internal yang menyebabkan seseorang makan akrena emosi, diantaranya:

  1. Kurang menyadari perasaan diri kita sendiri.
  2. Kurangnya kemampuan untuk memahami, memproses, atau menggambarkan emosi. 
  3. Kurang aktifnya kortisol terhadap stress.
  4. Seringkali makan karena emosi menjadi perilaku yang otomatis, sehingga semakin sering menggunakan makanan untuk mengatasi masalah, maka akan semakin sering kebiasaan tersebut. 

Apakah makan karena faktor emosi merupakan gangguan makan? Sebenarnya makan akrena emosi bukanlah gangguan makan, namun kebiasaan ini dapat menyebabkan tidak teraturnya pola makan hingga menyebabkan terjadinya gangguan makan. Pola makan yang tidak teratur diantaranya:

  1. Bersikap kaku saat memilih makanan
  2. Melabel makanan dengan “baik” atau “buruk”
  3. Diet dengan membatasi makanan 
  4. Menggunakan makan sebagai respon terhadap emoosi dibandingkan rasa lapar fisik.
  5. Tidak teraturnya waktu makan.
  6. Munculnya perasaan bersalah setelah meengkonsumsi makanan yang dianggap tidak sehat

Perilaku makan yang tidak tertaur bukan berarti seseorang mengalami gangguan makan, karena dibutuhkan beberapa kriteria untuk seseorang didiagnosa dengan gangguan makan. Anda tidak harus didiagnosa dengan gangguan makan untuk mendapatkan bantuan. Segeralah berbicara dengan dokter untuk mendapatkan solusi saat dibutuhkan.

Mengapa makanan?

Banyak alasan yang menyebabkan makan menjadi salah satu untuk mengatasi masalah. Sulitnya mengungkapkan emosi dapat menyebabkan perasaan hampa dan kekosongan secara emosional. Makan dapat membantu melepaskan dopamin (zat kimia otak) yang membuat kita merasa senang.

Selain itu, perkembangan sosial media dan internet dapat membuat gambar makanan berada di mana saja. Kita akan dengan mudah mendapatkan pesan dan gambar tentang makanan, sehingga rasa lapar pun akan meningkat.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

3 Area Yang Diam-Diam Muncul Kerutan Lebih Cepat Dibandinkan Area Lainnya (Bagian I)

Kerutan adalah hal yang pasti muncul. Kerutan menjadi