Anak-anak seringkali memiliki keinginan dan kenakalannya sendiri. Mungkin beberapa orang menggapnya lucu dan patut dimaklumi karena masih anak-anak, namun sebagai orangtua tentu kita harus mengajarkan batasan kepada anak sejak dini. Hal ini dilakukan demi keselamatan dan kesejahteraan mereka sendiri. Anak-anak mungkin saja belum memahami resiko dari perbuatan mereka.
Melarang anak bukan berarti kita sebagai orangtua tidak menyayanginya. Justru inilah bentuk perlindungan kepada anak, namun sebagai orangtua kita juga harus menyampaikannya dengan baik agar anak tidak merasa sakit hati dan tetap mendengarkan kita sebagai orangtuanya.
Banyak orangtua yang merasa kesulitan untuk melarang anak dan berkata “Tidak” atau “Jangan”. Mereka takut sekali kata-kata tersebut dapat menyakiti hati dan mengecewakan anak. Tapi orangtua harus memahami bahwa kata-kata tersebut adalah bentuk kasih sayang kepada anak.
Meskipun kata ‘tidak’ tampak sederhana, namun cara orang tua menyampaikannya sangat berpengaruh pada bagaimana anak menerima pesan tersebut. Lalu bagaimana cara melarang anak agar tidak menyakiti perasaan dan orangtua tetap di dengar?
1. Mengakui perasaan terlebih dahulu
Sebelum melarang dan berkata “Tidak” atau “Jangan”, sebaiknya pahamid ahulu emosi si kecil seolah olah kita sangat memahami emosinya. Misalnya saja “Ibu tahu, kamu sangat senang menonton TV, tapi kalau terlalu lama itu tidak baik”. Ini menunjukkan bahwa orangtua sangat berempati.
2. Berikan penjelasan sederhana
Anak-anak khususnya cenderung tidak suka terlalu dinasehati. Hal ini justru membuat emreka merasa digurui. Mereka membutuhkan kejelasan. Misalnya saja kita tidak boleh membeli mainan karena kita sedang menabung untuk hadiah yang lebih besar. Misalnya saja juga kita tidak boleh menonton TV terlalu lama karena bisa membuat mata sakit.
3. Alihkan dengan alternatif
Ganti dengan alternatif, misalnya saja si kecil tidak boleh makan snack terlalu banyak, jelaskan alasannya dan ajaklah ia memilih menu maka sehatnya. Misalnya saja si kecil tidak boleh menonton TV terlalu lama, gantilah dengan mengajaknya bermain.
4. Tetap tenang dan konsisten
Tetap tenang dan konsisten adalah kunci keberhasilan dari penerapan parenting ini. Tak jarang anak-anak sangat menguji kesabarand an mereka juga melakukan tawar menawar, misal 1 jam lagi menonton TV nya. Cukup katalan tidak dan konsistenlah. Sebab, jika sekalis aja si “iya” kan, maka si kecil akan mengulangnya lagi.
5. Berikan contoh komunikasi yang penuh kasih
Mengatakan “jangan” atau “Tidak” kepada anak tidak harus dilakukan dengan suara yang keras. Kedua kata-kata itu perlu diucapkan untuk menjaga batasan-batasan si kecil. Gunakan nada yang lembut, hindari berteriak. Ajak saja si kecil diskusi. Misal si kecil terlalu banyak menonton TV, ajak ia bicara mengenai dampak menonton TV terlalu lama dan lainnya.
Menjelaskannya dengan tenang kepada anak-anak membuat mereka merasa didukung daripada ditolak. Ketika kata “tidak” diucapkan dengan penuh kasih sayang, itu menunjukkan bahwa batasan yang sudah ditetapkan bukan untuk menghukum, melainkan karena kepedulian.
Semangat terus Bunda mendampingi si kecil ya. Jangan lelah. Mintalah bantuan ayah ya Bun karena mendidik anak tugas berdua.
Facebook Comments