Sebagai sebuah sistem yang integral, tubuh dan pikiranmu saling mempengaruhi satu sama lain koneksi “pikiran dan tubuh” bukan hanya sebuah istilah konyol yang ada pada kelas-kelas yoga. Bahkan, berdasarkan ilmu pengetahuan, ditemukan bahwa adanya hubungan fisiologis antara penyakit fisik dengan kondisi mental yang nampaknya tidak berhubungan. Masalah fisik bisa mempengaruhi kesehatan mentalmu, namun begitu pula sebaliknya. Berikut adalah contoh-contoh penyakit fisik yang memiliki hubungan dengan kesehatan mental.

Penyakit jantung dan gangguan panik

Penyakit jantung adalah penyakit fisik yang sangat berbahaya. Ternyata, penyakit ini punya hubungan dengan gangguan panik. Pad saat kamu mengalami serangan panik, tubuhmu akan mengalami lonjakan adrenalin, kortisol, dan aktivitas sistem kekebalan tubuh. Ini adalah kombinasi yang berbahaya bagi jantung. Jika ini terjadi terlalu sering, maka ini bisa menyebabkan jantung berdetak begitu cepat, sehingga meningkatkan resiko penyakit  jantung. Padahal, mereka yang memiliki gangguan panik yang parah bisa mengalami serangan panik hingga beberapa kali sehari. Sebuah studi menyebutkan bahwa mereka yanng memiliki gangguan panik mengalami peningkatan resiko penyakit jantung sebanyak 47 persen.

Penyakit jantung dan depresi

Resikomu terserang penyakit janntung meningkat 30 persen jika kamu memiliki gangguan depresi. Seperti gangguan panik, depresi bisa memicu hormon kortisol dan adrenalin yang tanpa henti dan membuat jantung terstimulasi. Selain itu, depresi juga bisa membuat platelet atau trombosit (yang membnatu tubuhmu menghentikan pendarahan) menjadi lebih lengket dan jadi rentan membentuk gumpalan darah yang bisa menyumbat aliran darah ke jantung.

Psoriasis dan depresi

Psoriasis adalah sebuah penyakit peradangan autoimun kronis yang terjadi pada kulit dengan tanda-tanda kulit berbercak perak, putih, atau merah dengan sisik tebal. Berdasarkan studi, wanita yang mengalami depresi parah memiliki resiko hampir dua kali lipat mengalami gangguan kulit yang menyakitkan ini. Selain itu, mereka yang telah mengalami psoriasis dan memiliki masalah kesehatan mental yang sama juga mengalami peningkatan resiko psoriatic arthritis. Kaitannya? Baiik psoriasis maupun episode depresi terkait dengan sitokin yang meningkat, membuat peradangan menjadi semakin parah.

Sakit kepala sebelah dengan gangguan kecemasan dan depresi

Mereka yang mengalami penyakit fisik yang mengganggu ini beresiko mengalami kecemasan dua setengah kali lipat lebih besar dari mereka yang tidak langganan penyakit ini. Kemungkinan besar, ini terjadi karena sistem syaraf simpatis yang terlalu overaktif. Stimulasi yang mendorong keluarna adrenalin secara terus menerus bisa memicu perasaan cemas atau depresi, kemudian, selagi hormon rush tersebut berhenti, jumlah steroid yang memblokir rasa sakit pun menurun, sehingga migraine parah dirasakan.

Sakit kepala sebelah dengan gangguan bipolar

Hampir seperti penderita gangguan bipolar mengalami migraine. Ini jauh lebih besar daripada populasi umum yang hanya sepersepuluhnya saja yang menderita migraine. Bahkan, kaitannya sangat kuat. Pengobatan yang sama biasa digunakan untuk menangani kedua kondisi. Kemungkinan ini dikarenakan kedua penyakit tersebut sama-sama dikaitkan dengan peningkatan senyawa yang terkait dengan inflamasi, termasuk asam arakidonik. Kemungkinan lain, keduanya terkait dengan gangguan aliran darah ke otak.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

Mandi Tanpa Sabun Lebih Sehat? Simak 5 Manfaat Mandi Tanpa Sabun Berikut Ini!

Tahukah kamu? Ternyata menyabuni tubuh kita dari ujung