Meskipun kamu adalah seorang ibu yang baik, tetapi kamu harus ingat untuk mematikan mode ibu ini ketika kamu berinteraksi dengan pasanganmu.  Tak ada yang lebih tak seksi dan romantic daripada memperlakukan suami seperti anak. Sayangnya, skenario ini banyak terjadi dalam kehidupan berumah tangga dimana pasangan sudah memiliki anak. Tak jarang, sang istri memperlakukan suami sama seperti ia memperlakukan anaknya, padahal ini sangat membuat frustrasi pasangannya.

Apakah kamu memperlakukan suami dengan cara ini? Waspadai tanda-tandanya.

Kamu terus-terusan mengingatkan

Apakah kamu bertingkah seperti seorang pasangan nagging yang stereotipikal? Kadangkala, stereotipini ada benarnya. Jika kamu terus-terusan mengingatkan pasanganmu apa yang harus dilakukannya hari ini, kamu berarti memperlakukan dia seperti anak. Memang, adalah hal yang menyebalkan jika suamimu lupa membelikan susu yang kamu titipkan untuk dibelinya di perjalanan pulang, tetapi terus-terusan memberitahunya apa yang harus dilakukannya bukan hanya membuatnya merasa seperti anak, tetapi juga menempatkan tanggung jawab terus-terusan di pundakmu. Sebaiknya, kamu memperlakukan suami seperti orang dewasa, dan jika ia memang gagal melakukan apa yang seharusnya dilakukannya, maka ia harus belajar dan bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri seperti orang dewasa. Lagipula, kamu tidak capek jadi alarm?

Kamu tidak membiarkan pasanganmu memegang kendali apa pun

Apakah kamu selalu yang maju untuk segala hal di rumah tangga kalian? Apakah kamu tidak pernah membutuhkan bantuannya entah karena kamu suka memegang kendali atau karena kamu tidak mempercayai kemampuannya? Ini adalah sebuah masalah. Pasangan seharusnya adalah orang yang berpartisipasi melakukan sebuah hal bersama orang lain. Ini artinya suamimu harus melakukan sesuatu dalam rumag tangganya denganmu. Kamu tak seharusnya jadi wanita yang bermain solo. Jika itu yang ingin kamu lakukan, mengapa menikah?

Apakah penyebabnya karena kamu adalah seorang control freak? Kamu harus sejenak mundur, mengelola kecemasanmu, dan mengijinkan pasanganmu mengambil kendali dengan porsi yang sama denganmu. Jika masalahnya karena memang dia pasif dan tak punya inisiatif, maka ajak dia bicara. Jangan sampai dalam pernikahanmu ada dendam karena kamu merasa harus jadi baby sitter-nya dan memperlakukan suami seperti anak.

Kamu menganggap suamimu tidak dewasa

Apakah kamu memang memperlakukan suami seperti bayi karena ia bertingkah seperti itu? Jika begitu, mungkin memang kamu butuh memperlakukannya demikian, tetapi tanyakan dirimu sendiri: apakah kamu butuh bayi yang lain? Jika pasanganmu buruk dalam mengelola uang, tak pandai mengurus anak, terlalu sering main, atau sangat egois, maka kamu mungkin butuh konseling pernikahan. Bahkan, mungkin, lebih parah, kamu mungkin harus meninggalkannya. Ingatlah, kamu menikahi seseorang berharap berumah tangga dengan seseorang yang setara, bukan dengan anak-anak.

Jadi, tak peduli apakah alasannya memang dia atau kamu yang mencari-carinya, kamu butuh sejenak mundur dan kelihat dinamika keluarga dan pernikahan untuk melihat mengapa ini terjadi dan bagaimana cara memperbaikinya.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

Tips dan Saran Makeup Untuk Wajah Bulat

Semua wanita dengan wajah bulat tidak perlu khawatir