Kebahagiaan dan kepuasan dalam suatu hubungan bergantung pada tiga faktor kunci. Nah, menariknya, faktor ini tidak bersifat naluriah, melainkan membutuhkan pembelajaran dan persiapan. Berikut ini adalah beberapa faktor yang dapat dilatih dan dipelajari demi mempertahankan atau menyelamatkan suatu hubungan :

  1. Welas asih

Welas asih adalah kemampuan untuk memahami orang lain dengan cara membayangkan bahwa kamu ada di posisi orang tersebut. Setelah kamu tinggal beberapa tahun dengan seseorang, kamu mungkin berpikir bahwa kamu sudah mengenal satu sama lain dengan sangat baik. Tapi, hati-hati, anggapan ini justru bisa menjadi penghalang dalam mengembangkan empati satu sama lain.

Untuk menghindari kesalahan tersebut, kamu harus terus melatih welas asih dalam diri kamu. Coba posisikan diri kamu pada orang lain. Pejamkan mata kamu, dan, dengan mempertimbangkan karakter orang tersebut dan keadaannya, cobalah untuk membayangkan bagaimana perasaannya. Lupakan pendapat kamu, cobalah untuk memahami emosi orang lain. Ini akan memungkinkan kamu menunjukkan empati demi hubungan yang sehat dan bahagia.

  1. Mengerti dan Memahami

Dalam sebuah hubungan, penting untuk tidak hanya menempatkan diri kamu pada posisi orang lain ketika mereka dalam masalah, tetapi juga selama pertengkaran yang mungkin terjadi antara kalian.

Tentu saja, selama pertengkaran, sangat sedikit ada pihak yang bisa mengatakan hal-hal seperti, “Iya, kamu berhak merasa seperti itu dan aku mengerti”.  Padahal, kata-kata ini bisa memiliki efek yang ajaib. Pasangan kamu akan menyadari bahwa kamu memahami perasaannya dan meskipun kamu kesal, kamu berhasil menerima perasaannya. Kesadaran ini mengarah pada perasaan lega dan melupakan emosi negatif.

  1. Perhatian dan Kesopanan

Kita semua cenderung meremehkan pentingnya tindakan kecil, seperti kesopanan dan perhatian. Ada sebuah lingkaran setan yang sering muncul dalam hubungan, yaitu ketika satu pasangan merasa kesal karena yang lain melakukan kesalahan yang sama, lalu semuanya menjadi pertengkaran yang serius. 

Dalam hal ini, perhatian seperti buket bunga, sebatang cokelat, makan malam yang enak, atau pelukan, dapat membantu menghilangkan dan memutus lingkaran setan. Tentu saja, perhatian tidak dapat memperbaiki situasi seperti ini jika kamu membuat seseorang menderita. Tetapi jika situasinya belum terlalu buruk, jangan abaikan taktik ini.

  1. Kerja sama

Beberapa pasangan mulai memperlakukan satu sama lain seperti teman karena sudah sangat terbiasa satu sama lain. Dalam situasi seperti ini, beberapa orang sering kali mengabaikan pendapat pasangannya saat mengambil keputusan. Untuk menghindari masalah perbedaan pendapat yang berujung pada kata “putus” atau “cerai”, kamu harus membuat keputusan penting dengan mempertimbangkan opini pasangan kamu. Karena keputusan ini kemungkinan besar akan memengaruhi kehidupan kamu dan pasangan. Kalian harus bekerja sama dan saling mendukung. 

  1. Hindari Spekulasi

Jangan berspekulasi dalam situasi apa pun, tanyakan saja kepada pasangan kamu secara langsung tentang apa maksud dari perkataan atau perbuatan mereka sebenarnya. Kejujuran dan keterbukaan adalah hal yang sangat penting dalam hubungan. Jangan mencoba membaca pikiran atau membaca pesan tersirat pasangan kamu, karena itu bisa mengarah ke hal-hal negatif dan spekulasi lain yang hanya akan menyiksa kamu.

  1. Bersyukur

Setiap ada kesempatan, beri tahu pasangan kamu betapa bersyukurnya kamu memilikinya dan hidup bersamanya. Kamu mungkin tidak mempercayai ini, tetapi kata-kata ini benar-benar ajaib. Pasangan kamu akan merasa bahwa dia penting, dia berharga, dia berguna, dia dibutuhkan, dan menyadari bahwa kamu benar-benar mencintainya. 

Baca Juga :

Mempertahankan Hubungan LDR itu Susah-susah Gampang, Tapi Bukan Berarti Gak Bisa Yaa !

Hubungan Sudah di Ujung Tanduk? Saatnya Pertimbangkan Apakah Kamu Masih Bisa Mempertahankan Hubungan Ini?

5 Tanda Bahaya Hubungan yang Renggang dengan Pasangan

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

Tips Menghadapi dan Menerima Fisik Diri Sendiri dan Pasangan

Lebih dari 50% remaja yang berusia sekitar 17