Orangtua selalu mengajarkan anak-anaknya untuk tidak berbohong. Tapi sayangnya, tanpa disadari, melalui perkataanya, orangtua sering berbohong kepada anak-anaknya. Mungkin banyak orangtua yang berkilah dengan mengatakan bahwa kebohongan yang mereka lakukan adalah demi kebaikan dan melindungi anak, demi rasa cinta dan sayang mereka. Tapi mereka tidak menyadari, bahwa kebohongan yang dilakukan bisa berdampak buruk bagi anak-anak mereka, bahkan bisa bisa merubah sifat dan karakter anak menjadi seorang pembohong.

Berikut adalah contoh-contoh kebohongan yang sering dilakukan orangtua kepada anaknya

“Santa Clause sedang mengawasimu.”

Banyak anak kecil yang percaya akan hal ini, tapi saat mereka beranjak dewasa, mereka menyadari bahwa santa clause hanyalah dongeng kebohongan yang diciptakan oleh ayah ibunya, dan hal tersebut berdampak pada rasa kekecewaan anak itu sendiri, sehingga tanpa sadar si anak menganggap ayah ibunya seorang pembohong.

“Saya tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu”

Perkataan ini seperti sebuah janji pasti bahwa seorang anak tidak akan menghadapi bahaya, padahal kenyataannya, orangtua tidak akan benar-benar menjaga anaknya 100 % dari bahaya mengancam, karena ada hal-hal yang terjadi diluar kendali manusia. Akan lebih baik jika kalimat tersebut diganti dengan perkataan, “Apapun yang terjadi, saya akan berusaha menjagamu,”

“Taman permainannya ditutup”

Itu hanya salah satu perkataan para orangtua jika merasa lelah, atau tidak punya waktu ketika menemani anaknya untuk bermain sejenak saja. Padahal kenyataanya sebenarnya tempat tersebut dalam keadaan terbuka. Akan lebih baik jika perkataan berbohong itu diganti dengan “Maaf sayang, Ibu sedang sibuk, jadi tidak bisa menemanimu bermain, mungkin lain kali bisa,” dengan perkataan jujur tersebut mungkin bisa jadi seorang anak tidak terima, marah dan lain sebagainya, tapi setidaknya sudah mengatakan hal jujur kepada anak anda.

“Tidak sakit kok, janji”

Demi membujuk seorang anak supaya mau ke dokter seringkali orangtua mengatakan kalimat bohong dengan tujuan si anak tidak takut ke dokter, tapi pada kenyataanya saat si anak benar-benar bersedia ke dokter dan merasakan sendiri bahwa disuntik itu menyakitkan, ia bisa jadi akan trauma pergi ke dokter dan tidak lagi percaya.

“Lukisannya bagus”

Demi memuji si anak, terkadang orangtua memuji anaknya terlalu berlebihan, padahal dari bahasa tubuh, anak bisa menangkap bahwa gesture orangtuanya sedang tidak benar-benar ikhlas berbicara. Lebih baik puji usahanya bukan hasilnya.

Nah, dari contoh diatas, pernahkah kita sebagai orangtua melakukan kebohongan sejenis? Segera ubahlah, karena orangtua berhak memberi contoh melalui perbuatan tidak hanya perkataan, dan anak pasti akan menjadi peniru, jadi tanamkan nilai-nilai baik yang harus ditiru oleh anak-anak.

Baca juga Tips Parenting Jaman Kakek-Nenek Ini Dibilang Sudah “Ketinggalan Jaman”. Anak 80-90an Pasti Dididik Seperti Ini

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

Menurut Para Chef, 6 Hal Ini Bisa Membedakan Restoran Baik dan Buruk

Makan di rumah memang paling hemat dan nikmat,