Cerita tentang perselingkuhan antara pasangan kekasih atau pasangan suami istri tidak hanya ada di film atau novel. Di sekitar kita pun banyak masalah perselingkuhan, entah itu masalah di keluarga kita sendiri, di antara teman-teman, atau masalah di sekitar lingkungan rumah.

Kira-kira apa alasan sebenarnya yang membuat seseorang selingkuh dari pasangannya? Coba simak beberapa alasan yang disebutkan oleh para ilmuan berikut ini:

  1. Tidak ada keintiman emosional dengan pasangan 

Ketidakmampuan untuk melakukan percakapan dari hati ke hati atau percakapan intim dengan pasangan, serta kurangnya dukungan dalam hubungan, bisa memicu perselingkuhan. Ada stereotip bahwa motif utama pria untuk berselingkuh adalah seks.

Namun, seorang konselor pernikahan bernama Gary Neuman dalam bukunya yang berjudul “The Truth about Cheating” menyebutkan bahwa 47% klien pria yang berkonsultasi dengannya mengaku berselingkuh karena sudah tidak ada keintiman emosional dengan pasangan. 

Situasi dalam hubungan bisa menjadi lebih sulit ketika pihak pria tidak suka menunjukkan perasaan mereka dan pihak wanita tidak peka bahwa pasangannya sedang membutuhkan dukungan atau tempat bersandar.

  1. Pengaruh pengalaman dan masyarakat

Apabila seseorang sudah pernah berselingkuh di hubungan sebelumnya, maka besar kemungkinan dia juga akan berselingkuh di hubungan selanjutnya. 

Selain itu, ternyata pengaruh masyarakat atau orang di sekitar juga bisa meningkatkan kecenderungan selingkuh bagi orang yang pernah selingkuh sebelumnya.

Dalam sebuah survei anonim, lebih dari 75% pria yang sering selingkuh mengaku bahwa sebagian besar teman-temannya juga selingkuh, sama seperti dirinya. 

  1. Hubungan intim bersama pasangan dirasa membosankan

Kurangnya emosi atau gairah saat berhubungan seks dengan pasangan adalah alasan yang membuat 70% pria dan 49% wanita memutuskan untuk selingkuh. Beberapa dari orang yang selingkuh mengaku bahwa sebenarnya hubungan mereka dengan pasangan baik-baik saja. Masalahnya hanyalah hubungan intim yang dirasa kurang atau tak sesuai harapan. 

  1. Pengaruh quarter-life crisis

Quarter life crisis adalah momen di mana seseorang mulai beranjak dewasa dan melihat kehidupan dunia yang keras. Momen ini bisa membuat orang jadi frustrasi dan cemas akan masa depan. Setiap orang memiliki momen quarter life crisis masing-masing. Ada yang mengalaminya saat usia 20 tahunan, ada juga yang mengalaminya saat usia 30 tahunan. Tak menutup kemungkinan momen itu juga kembali terjadi saat usia menginjak 40 tahunan.

Rasa frustrasi dalam menghadapi kehidupan yang keras bisa jadi pemicu mengapa pasangan memutuskan untuk selingkuh. Bisa jadi mereka menganggap selingkuh sebagai cara untuk melampiaskan rasa frustrasi atau mencari hiburan dari kehidupan yang menyesakkan.

  1. Pengaruh media sosial

Apabila salah satu pasangan sangat aktif di media sosial, akan ada kemungkinan risiko perselingkuhan meningkat. Ini karena para pencandu media sosial sangat mudah bertemu orang baru dan akrab dengan teman di media sosial.

Hubungan virtual terkadang bisa berlanjut pada hubungan di kehidupan nyata. Inilah yang membuat  seseorang yang sudah punya pasangan berselingkuh dengan teman virtual.

  1. Perjalanan bisnis

Menurut salah satu survei, terdapat lebih dari 33% pengusaha yang mengaku selingkuh saat sedang dalam perjalanan bisnis. Dari survei yang sama, terdapat 13% wanita yang mengaku pernah berselingkuh di tempat kerja. 

Kemungkinan selingkuh di tempat kerja akan meningkat selama tahun 6 sampai 9 tahun usia pernikahan. Karena, tahun-tahun ini adalah momen paling rentan untuk berpaling, sehingga membutuhkan usaha dari kedua pasangan untuk meningkatkan kualitas hubungan. Ketika kualitas hubungan meningkat, risiko selingkuh pun akan berkurang.

Baca Juga :

6 Alasan Untuk Tidak Selingkuh

Cek! Apakah Doi Tipe yang Setia atau Tukang Selingkuh Berdasarkan Zodiak

5 Alasan Mengapa Suami yang Selingkuh Menolak Untuk Bercerai

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

5 Hal Ini Wajib Dibicarakan dengan Pasangan Sebelum Punya Anak 

Tahukah kamu, ada pepatah mengatakan “Tidak pernah ada