Stereotipe bisa bermanfaat dan bahkan bisa menyelamatkan nyawa. Misalnya, keyakinan bahwa anjing liar pasti akan menyerang orang. Stereotipe itu akan memaksa seseorang untuk berhati-hati jika bertemu dengan anjing liar. Di sisi lain, ada juga stereotip yang menyebalkan tapi tidak berbahaya, seperti anak laki-laki harus berpakaian biru, dan perempuan harus berpakaian dengan warna pink, dll.

Terkadang, banyak stereotip yang berdampak negatif pada kehidupan masyarakat. Nah, berikut ini adalah beberapa sikap sosial yang seharusnya sudah kita tinggalkan dan tidak perlu lagi dipertahankan :

  • Semua Orang yang Lebih Tua Harus Dihormati

Penghormatan terhadap usia bermula dari masa primitif ketika generasi yang lebih tua adalah satu-satunya sumber pengetahuan tentang dunia di sekitar kita. Sekarang, ada banyak sekali sumber pegnetahuan dan dunia berubah begitu cepat sehingga pengalaman generasi sebelumnya langsung menjadi usang. Dan saat ini, bukan nenek yang mengajari cucu merajut, tetapi cucu yang menunjukkan cara menggunakan gadget kepada neneknya.

Setiap orang, berapapun usianya, memang pantas untuk diperlakukan dengan sopan, namun rasa hormat harus dilandasi oleh perbuatan, bukan usia. Misalnya, seorang pensiunan argumentatif yang menyinggung kerabat, tetangga, dan bahkan hewan tidak dapat dianggap layak untuk dihormati. Faktanya, seorang remaja yang menjadi sukarelawan di panti jompo lebih pantas dihormati.

Stereotip tentang penghormatan wajib bagi lansia juga bisa berbahaya. Seorang anak kecil yang memiliki pandangan ini kemungkinan besar tidak akan bisa menolak orang dewasa, bahkan orang asing sekalipun. Ini berarti bahwa anak dengan penuh kepercayaan akan pergi dengan orang asing, tidak peduli apa yang mereka katakan kepada anak itu karena, dalam pikiran mereka, semua orang tua memiliki otoritas dan harus dihormati.

  • Sebuah Hubungan Membutuhkan Kerja Keras

Keluarga dan cinta bukanlah tempat bekerja atau perang, demikian kata psikolog. Kamu tidak perlu mengorbankan diri sendiri dalam memperjuangkan cinta dan keluargai. Dalam hubungan yang sehat, pasangan bukanlah saingan, melainkan anggota tim. Konflik dapat terjadi di antara keduanya, tetapi kedua belah pihak harus siap untuk menyelesaikannya. Dan untuk ini, kamu perlu bekerja bukan pada hubungan, tetapi bekerja pada diri kamu sendiri.

Jika kamu merasa tidak nyaman dengan pasangan dan waktu yang kamu habiskan bersamanya tidak membuat kamu bahagia, atau jika kamu diabaikan, atau pasangan kamu tidak sadar bahwa mereka menyakiti kamu tapi terus menerus menyakiti kamu, maka ini adalah hubungan toxic yang harus diakhiri. Bukan berarti pasanganmu buruk, hanya saja kamu menginginkan hal berbeda, sehingga kalian tidak bisa menjadi satu tim.

  • Kemalasan adalah Hal Buruk

Setiap orang pasti pernah menunda hal-hal penting untuk dikerjakan nanti, absen olahraga pagi, atau membaca novel alih-alih mempersiapkan ujian. Biasanya, setelah ini terjadi, seseorang mengalami rasa malu karena menuruti kemalasannya. Dan orang malas tidak dihormati di masyarakat.

Namun nyatanya, setiap orang berhak untuk memilih. Jika kemalasan kamu masih dianggap sebagai tindakan tidak baik, kamu tidak perlu merasa malu karena ini adalah cara melindungi tubuh kamu dari kelebihan beban. Sering kali, setelah beristirahat, seseorang menjadi lebih produktif dan tiba-tiba menemukan solusi menarik untuk masalah kreatif yang kompleks. Faktanya adalah, pada saat-saat istirahat, algoritme untuk “pemrosesan tak sadar” dari data yang terakumulasi diaktifkan di otak kita. Jadi, bersantai bukan berarti buruk.

  • Ini Adalah Pekerjaan Laki-laki dan Itu Adalah Perempuan

Pekerjaan masih terbagi menjadi pekerjaan perempuan dan laki-laki. Wanita diyakini tidak paham teknologi dan pria dianggap tidak mampu berempati, jadi merawat anak-anak dan orang tua jelas bukan bidang pada pria. Namun, ilmu saraf telah membuktikan bahwa otak tidak bergantung pada gender.

Otak kita mencerminkan kehidupan yang kita jalani. Jika seorang anak laki-laki diberikan satu set LEGO dan dia terus-menerus merancang sesuatu darinya, kemungkinan besar, dia akan menjadi insinyur yang terampil. Jika seorang gadis diberi boneka dan diajari berpura-pura menjaga rumah, maka otaknya akan menyesuaikan diri dengannya. Kita sendiri telah memprogram sikap gender pada anak-anak kita.

Jika seorang wanita dengan ijazah pergi untuk mendapatkan pekerjaan sebagai insinyur perangkat lunak, dan seorang pria mendapat pekerjaan sebagai guru sekolah dasar, itu berarti otak mereka telah berhasil beradaptasi dengan bidang aktivitas mereka. Namun, karena adanya stereotipe, keduanya berisiko menjadi pengangguran. Inilah bahaya dari stereotipe dalam kehidupan.

Baca Juga :

https://www.tampilcantik.com/koleksi-musim-panas-andalan-generasi-muda-oleh-ohlind/

https://www.tampilcantik.com/ingin-tato-perhatikan-tips-berikut-ini-sebelum-kamu-menyesal-seumur-hidup/

https://www.tampilcantik.com/6-hal-yang-akan-terjadi-pada-wajahmu-jika-kamu-menguap-wajah-seminggu-sekali/

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

Makanan yang Boleh dan Tidak Boleh Kamu Makan Saat Menstruasi

Tahukah kamu? Kebutuhan nutrisi wanita akan berubah sepanjang